Review Bola Inter Dipecundangi Milan

Review Bola Inter Dipecundangi Milan

Review Bola Inter Dipecundangi Milan – I Nerazurri kembali harus tertunduk untuk yang kesekian kalinya dalam sebulan terakhir. Kali ini penyebabnya adalah rival se kota, I Rossonerri. ‘Sang Kakak’ se kota itu baru saja mempecundangi Inter dengan skor telak 3-0. Tanpa ampun, Milan menghajar Inter yang turun dengan kekuatan penuh sejak menit pertama. Kekalahan kali ini seolah mengulangi pencapaian buruk Inter ketika berhadapan dengan Juventus pada semifinal leg pertama Coppa Italia beberapa hari yang lalu. Waktu itu, Inter juga dibekuk 3-0 tanpa balas.

Susunan Skuad

Inter turun dengan kekuatan inti. Beberapa nama baru yang baru saja bergabung ikut dalam formasi 4-2-3-1 milik Mancini semalam. Di lini belakang, Inter menempatkan 4 bek sejajar. Kali ini, Davide Santon yang baru saja pulih, langsung dimainkan sejak detik pertama. Santon diplot di posisi full back kanan, sedangkan di posisi full back kiri ada nama Juan Jesus yang harus bergeser dari posisi aslinya di sentra tengah pertahanan. Yang menarik kali ini adalah Inter menurunkan bek baru mereka yakni De Souza Filho di posisi centre back, tempat yang sering menjadi langganan Miranda. Bersanding pada posisi tersebut, tertera nama Murillo.

Di lini tengah, Inter memasang duo Medel dan Bronzovic. Di sayap kiri dan kanan, Inter memasang Perisic dan Ljalic. Bergeser ke depan, kali ini secara mengejutkan Mancini langsung memainkan Citadin Eder sejak awal. Sebagai tandemnya, Jovetic diplot sebagai striker tunggal di depan.

Milan sendiri juga turun dengan kekuatan utamanya. Di depan, duo Niang dan Bacca diplot sejak awal. Empat orang gelandang mereka berdiri sejajar yakni Montolivo, Kucka, Bonaventura, dan Honda. Honda dipasang sebagai sayap kanan. Di lini belakang, Milan mengandalkan Romagnoli dan Dias De Costa.

Review Pertandingan

Secara keseluruhan, Inter menguasai pertandingan. Inter memiliki penguasaan bola mencapai 51%. Penguasaan bola sebesar ini sekaligus mengingatkan pertandingan Inter ketika melawan Juventus beberapa hari yang lalu yang juga diakhiri skor yang sama, kalah telak 0-3.

Inter tampak lebih mengandalkan posisi sayap yang diperankan Ivan Perisic. Perisic sering bergantian melakukan penetrasi dengan Santon di sayap kanan. Posisi ini sering dibombardir Santon dan Perisic karena Bonaventura yang diplot sebagai bek kiri Milan juga sering maju dan meninggalkan posnya.

Tekanan Inter sering menerobos masuk ke kotak pinalti lawan. Hanya saja, penyelesaian akhir Inter masih belum baik. Inter semakin kesulitan mencetak gol dikarenakan penampilan duo bek tengah Milan yang sangat disiplin yakni Ales dan Romagnoli.

Milan sangat unggul dalam pertarungan di lini tengah. Kucka yang ada di posisi itu sangat berperan dalam menekan pertahanan Inter. Peran Kucka sangat terlihat ketika penjagaannya pada Brozovic terbukti mampu menghentikan laju bola Inter ke sayap kanan yang disisi Adam Ljalic. Kesulitan yang dihadapi Brozovic mengharuskan Medel ikut-ikutan naik membantu penyerangan. Inilah salah satu titik lemah Inter pada pertandingan semalam. Lini tengah yang terlanjur kosong tersebut tidak mampu ditutupi 4 bek Inter lainnya. Kekalahan Inter di lini tengah semakin diperparah oleh kesalahan-kesalahan mendasar Medel yang sering kehilangan bola. Tidak kurang dari 4 kali tendangan percobaan berhasil dilesakkan para pemain Milan dari luar kotak pinalti, tepatnya dari pos yang dikawal Medel.

Kejelian Milan dalam melihat situasi permainan juga sangat terlihat dengan pemanfaatan sisi kiri pertahanan Inter. Posisi Juan Jesus sering tanpa penghuni, akibat sang empunya sering naik membantu serangan yang dibangun Adam Ljalic. Dari posisi ini lah 2 gol Milan berawal. Honda berhasil menusuk sisi kiri Inter lalu mengirim umpan lambung dan disambut oleh Alex.  Gol Bacca pun diawali umpan silang Niang dari sisi kiri Inter. Sang pengumpan pun mengakhiri pertandingan menjadi 3-0 lewat gol pamungkasnya. Walau bagaimanapun, posisi center back Inter juga sangat lemah dalam antisipasi umpan silang dadakan ini.

Inter sendiri sempat mendapakan hadiah pinalti. Namun, pinalti itu tak mampu dimanfaatkan Icardi. Inilah yang menjadikan permainan Inter setelahnya berjalan tanpa arah dan tanpa ruh. Inter seolah kehilangan sentuhan sebagai tim hebat dan bertenaga di Italia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *